Film Layar Lebar Pesisir Selatan

oleh -302 Dilihat

Rumah Produksi Film Jakarta yang diketuai Firdaus pada pukul 16.30 diterima Pj. Bupati Drs. Alwis. didampingi Kadis Pariwisata, Kadis DKP, Kepala Bappeda, Kabag Umum, Kabag Humas dan Kabid Kominfo.

Sesuai dengan proposal yang telah disampaikan sebelumnya, yang difailitasi oleh Kepala Bapeda Zefnihan, SIP, Msi, Ketua Tim dengan 5 orang anggotanya menyampaikan permohonan izin sekaligus dukungan partisipasi Pemkab Pesisir selatan untuk melakukan syuting pembuatan film tentang daerah Sumatera Barat.

Menurut Firdaus, Kabupaten Pesisir Selatan termasuk 6 Kabupaten/Kota yang menjadi lokasi syuting film yang diberi judul “Tidak Siti Nurbaya”. Lima daerah lainnya Kota Padang, 50 Kota, Sawah Lunto, Sijunjung dan Solok Selatan.
Pembuatan film layar lebar ini murni pembiayaanya dari pihak swasta. Pembuatan film ini digagas oleh tokoh-tokoh minang di Jakarta, diantaranya Ibuk Mufida Jusuf Kala, Masril Koto dan lain-lain.

Film ini akan melibatkan artis-artis papan atas nasional diantaranya Priscilia Nasution, Christina Hakim, Ivanka Suwandi, Tasman Taher, Henidar Amir, Amarzoni, Zaki Zuman dll.

Firdaus dalam paparannya bahwa, film yang akan dibuat ini disamping mengikuti alur cerita, yang tak kalah pentingnya adalah terkekspos dan terpublikasinya daerah Sumatera Barat secara nasional. Mengingat Sumatera Barat melalui Kabuapten/Kota memiliki potensi baik sektor pariwisata dan perekonomian.

Pembuatan syuting lebih banyak memakai lokasi lokasi wisata, untuk Kabupaten Pesisir Selatan diantaranya Mandeh, Carocok Painan dan Bukit Langkisau.

Di Pesisir Selatan kru film akan syuting selama 3 hari, yang nantinya akan didampingi oleh instansi terkait seperti Dinas Pariwisata, Dinas Kelautan dan Perikanan, Dinas Perhubungan Kominfo, dan Bagian Humas.

Syuting yang menurut skedul dimulai pertengahan Januari ini ditargetkan bisa tayang di layar lebar dan televisi pada bulan Juni.

Kemudian juga akan diperbanyak melalui CD, yang bisa didapatkan di kios-kios/tokok toko kaset/CD. Target utama penonton film ini adalah masyarakat minang di seluruh jagad Nusantara ini.

Menurut Firdaus, calon penonton dari masyarakat minang ini akan lebih antusias menonton film ini karena kaitan emosional mereka pada kampung halaman mereka yang menjadi lokasi syuting. Disamping itu masyarakat non minang tentu pingin lihat juga seperti apa Sumatera Barat yang terkenal memiliki panorama indah itu.” Film ini murni cerita Minang karena penulisnya juga orang Minang”, kata Firdaus.Sumber Pessel